Páginas

Sunday, September 23, 2012

::Wanita Pertama Yang ke Syurga::


"Kunci syurga seorang isteri terletak pada keredhaan suaminya"
FATIMAH anakku, mahukah engkau menjadi seorang perempuan yang baik budi dan isteri yang dicintai suami?" tanya sang ayah yang tak lain adalah Nabi SAW. "Tentu saja, wahai ayahku"

"Tidak jauh dari rumah ini a
da seorang perempuan yang sangat baik budi pekertinya. Namanya Siti Muthi'ah. Temuilah dia, teladani budi pekertinya yang baik itu".

Gerangan amal apakah yang dilakukan Siti Muthi'ah sehingga Rasulpun memujinya sebagai perempuan teladan? Maka bergegaslah Fatimah menuju rumah Muthi'ah dengan mengajak serta Hasan, putra Fatimah yang masih kecil itu.

Begitu gembira Muthi'ah mengetahui tamunya adalah putri Nabi besar itu. "Sungguh, bahagia sekali aku menyambut kedatanganmu ini, Fatimah. Namun maafkanlah aku sahabatku, suamiku telah beramanat, aku tidak boleh menerima tamu lelaki dirumah ini."

"Ini Hasan putraku sendiri, ia kan masih anak-anak." kata Fatimah sambil tersenyum.

"Namun sekali lagi maafkanlah aku, aku tak ingin mengecewakan suamiku, Fatimah."

Fatimah mulai merasakan keutamaan Siti Muthi'ah. Ia semakin kagum dan berhasrat menyelami lebih dalam akhlak wanita ini. Lalu diantarlah Hasan pulang dan bergegaslah Fatimah kembali ke Muthi'ah.'


"Aku jadi berdebar-debar," sambut Siti Muthi'ah, gerangan apakah yang membuatmu begitu ingin kerumahku, wahai puteri Nabi?"

"Memang benarlah, Muthi'ah. Ada berita gembira buatmu dan ayahku sendirilah yang menyuruhku kesini. Ayahku mengatakan bahwa engkau adalah wanita berbudi sangat baik, karena itulah aku kesini untuk meneladanimu, Wahai Muthi'ah."

Muthi'ah gembira mendengar ucapan Fatimah, namun Muthi'ah masih ragu. "Engkau bercanda sahabatku? aku ini wanita biasa yang tidak punya keistimewaan apapun seperti yang engkau lihat sendiri."

"Aku tidak berbohong wahai Muthi'ah, karenanya ceritakan kepadaku agar aku bisa meneladaninya." Siti Muthi'ah terdiam, hening. Lalu tanpa sengaja Fatimah melihat sehelai kain kecil, air dan sebilah tongkat di ruangan kecil itu.

"Buat apa dengan air ,kain kecil dan tongkat ini Muthi'ah" Siti Muthi'ah tersenyam malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. "Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. ku bagi dia minum air yang aku sediakan ,Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Iapun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang "

"Sungguh luar biasa pekertimu, Muthi'ah. Lalu untuk apa tongkat ini?"

tongkat ini digunakan untuk memukul ku jika suami ku tidak suka dengan layananku, supaya aku tidak mengulangi lagi kesalahan ku" Jawab Muthi'ah

"Seringkah engkau dipukul olehnya, wahai Muthi'ah?" tanya Fatimah berdebar-debar.

"Tidak pernah, Fatimah. Bukan tongkat yang diambilnya, justru akulah yang ditarik dan didekapnya penuh kemesraan. Itulah kebahagiaan kami sehari-hari".







"Jika demikian, sungguh luar biasa, wahai Muthi'ah. Sungguh luar biasa! Benarlah kata ayahku, engkau perempuan berbudi baik." kata Fatimah terkagum-kagum.





WAllahu'alam





Nota Kaki : Diambil daripada FB sahabat.

Tuesday, August 14, 2012

::Dalam, selam , karam::



[Rampai Hikmah Kitab Al-Hikam]


Bagaimana hati dapat bersinar
sementara gambar dunia terlukis dalam cerminnya?

Atau, bagaimana hati bisa berangkat menuju Allah
kalau ia masih terbelenggu dengan syahwatnya?

Atau, bagaimana hati akan bersemangat
menghadap ke hadirat Allah
bila ia belum suci dari "janabah" kelalaiannya?

Atau, bagaimana hati mampu memahami
kedalaman misteri ghaib
padahal ia belum bertaubat dari kesalahannya?

Alam ini serba gelap.
Ia terang hanyalah karena
tampaknya Allah di dalamnya.
Siapa melihat alam namun
tidak menyaksikan Tuhan
di dalamnya, padanya, sebelumnya, sesudahnya,
maka ia benar-benar memerlukan cahaya,
dan "suria" makrifat terhalangi darinya
oleh "awan" benda-benda ciptaan.

Di antara bukti
yang memperlihatkan kepadamu adanya kekuasaan Allah
adalah bahawa Dia menghalangimu dari melihat-Nya
dengan tabir yang tiada wujudnya di sisi-Nya.

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu dapat menghalangi-Nya,
sementara Dia-lah Yang Menampakkan segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu sanggup menghalangi-Nya,
sementara Dia-lah Yang Tampak pada segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu mampu menghalangi-Nya,
sementara Dia-lah Yang Tampak dalam segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu kuasa menghalangi-Nya,
sementara Dia-lah Yang Tampak untuk segala sesuatu?


Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu dapat menghalangi-Nya,
sementara Dia-lah Yang Ada sebelum segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu sanggup menghalangi-Nya,
bila Dia lebih jelas ketimbang segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu mampu menghalangi-Nya,
sedangkan Dia Esa, yang tiada di sampingnya sesuatu pun?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu kuasa menghalangi-Nya,
padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada segala sesuatu?


Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu dapat menghalangi-Nya,
sementara seandainya Dia tak ada, nescaya tak akan ada segala sesuatu?

Betapa ajaib, bagaimana kewujudan bisa tampak dalam ketiadaan?
Atau, bagaimana sesuatu yang baharu bisa bersanding dengan Yang Mahadahulu.


Sangatlah jahil, orang yang menginginkan
terjadinya sesuatu yang tidak dikehendaki Allah
pada suatu waktu.

Menunda beramal (soleh)
demi menantikan kesempatan yang lebih luang,
termasuk tanda kebodohan diri.



Jangan meminta kepada Allah supaya engkau dipindah
dari suatu keadaan (hal) ke keadaan yang lain.
Sekiranya Dia menghendaki yang demikian,
Dia tentu telah memindahkanmu
tanpa mengubah keadaanmu sebelumnya.


Bila semangat seorang salik ingin berhenti
pada sebahagian yang tersingkap baginya,
suara-suara hakikat memperingatkannya,
"Yang kamu cari masih di depan!"
Demikian halnya bila tampak
keindahan alam,
hakikat-hakikat memperingatkanmu,
"Kami hanyalah batu ujian,
maka janganlah engkau kafir."
(QS 2: 102)

Kamu meminta dari Allah bererti menuduh-Nya.
Kamu meminta kepada-Nya bererti engkau mengumpat-Nya.
Kamu meminta kepada selain-Nya bererti kamu
tak punya rasa malu kepada-Nya.
Dan kamu meminta dari selain-Nya bererti engkau jauh dari-Nya.


Tiada suatu nafas berhembus darimu, kecuali di situ
takdir Tuhan berlaku padamu

NO 13-22

[Syeikh Ibn 'Athoillah As-Sakandari]

Wallahu'alam

Kredit : Sahabat

Nota kaki :Kalam-kalam hikmah Syeikh Ibn 'Athaillah As-Sakandari selalu sahaja membuatkan hati jatuh cinta. Cinta pada keindahan susunan kalamnya, hikmah yang tersirat dalam kalam-kalamnya. Allahu Allah..hayatinya agar dapat menjadi penawar kepada penyakit hati. Membuang rasa bangga diri dan sombong. Membuang sifat ke"AKU"an kepada ke"HAMBA"an

Saturday, August 11, 2012

::ﺭﻓﻘﺎ ﺑﺎﻟﻘﻮﺍﺭﻳﺮ ::


"Si gelas-gelas kaca"

Dalam sebuah perjalanan. Ketika itu Rasulullah Saw bersama seorang budak yang biasa dipanggil dengan nama Anjasah. Suara Anjasah yang demikian besar membuat unta yang sedang dituntunnya menjingkrak-jingkrak. Setiap kali Anjasah berkata deng
an suara tinggi, maka unta itu bergerak tanpa kontrol karena terkejut. Hal itu membuat para wanita yang sedang berada diatas punggung unta hampir-hampir saja terjatuh.

Melihat yang demikian itu, saking perhatiannya kepada para wanita, Rasulullah Saw segera menegur Anjasah, kemudian memintanya untuk melirihkan suaranya. "Perlakukanlah gelas-gelas kaca itu dengan lemah lembut, hai Anjasah!!" kata beliau mengingatkan. Dan maksud dari gelas-gelas kaca itu adalah para wanita.

Ungkapan yang begitu indah. Mengagumkan. Sungguh bahasa yang beliau pilih untuk mengilustrasikan karakteristik kaum wanita adalah sangat tepat. Mereka memiliki kelembutan rasa. Selembut belaian angin sepoi-sepoi, bahkan lebih lembut lagi. Mereka mempunyai kehalusan jiwa, sehalus sutera China, bahkan lebih. Hal inilah yang mendorong Rasulullah Saw begitu nyaman menyebut kaum wanita dengan istilah ‘gelas-gelas kaca’.

Gelas-gelas kaca itu bening. Sebening embun, bahkan lebih bening. Gelas-gelas kaca itu bersih. Sebersih semburat surya di waktu dhuha, bahkan lebih bersih lagi. Selalu menyenangkan hati orang yang menatapnya. Karena memang naluriah manusia cenderung mencintai keindahan. Dan gelas-gelas kaca itu punya tabiat dasar bersih serta indah. Berarti ini sangat tepat.

Wanita memiliki kelembutan jiwa, kepekaan hati serta sensitivitas rasa. Namun tabiatnya yang indah suatu saat bisa saja ternoda manakala ia keluar ataupun 'dipaksa' keluar dari rel fitrahnya. Demikian halnya dengan gelas-gelas kaca itu, ia bisa saja pecah ketika terjatuh atau dijatuhkan. Ia juga bisa kotor karena debu-debu nakal yang menempel padanya. Oleh karena itulah Rasulullah Saw begitu hati-hati dalam menyebutnya, apalagi bermuamalah dengannya.

[Al-Habib Sholeh Ahmad Al-Aidrus]

Nota kaki : Kisah ini adalah kisah yang telah dinukilkan oleh Habibuna Al-Habib Sholeh Ahmad Al-Aidrus seorang Muhadith di Pesantren di Indonesia. Al-Faqirah sangat gemar bertandang ke website Al-Habib dek kerana ilmu dan keindahan kisah-kisah yang dinukilkan oleh seorang Wali Allah yang disembunyikan kewaliannya ini. Jemput meneguk ilmu ke website Al-Habib di link ini >>http://www.madinatulilmi.com

Wallahu'alam

Saturday, July 28, 2012

::Puasa vs Sedekah::



"Bersedekah adalah Sunnah Nabi"
Ketika turunnya perintah berpuasa selama 3 hari, anaknya Sayyiduna Rasulullah Solallahu 'alaihiwassalam Sayyidatuna Fatimah bersama-sama suaminya Sayyidina Ali serta anak-anaknya Sayyiduna Hassan dan Hussain yang ketika itu tidak sihat tidak terkecuali daripada turut serta menyahut perintah ini. Maka, berpuasalah mereka sekeluarga. Pada hari pertama Sayyiduna Ali pergi berjumpa dengan seorang yahudi untuk meminta sesuatu untuk dijadikan santapan berbuka mereka sekeluarga kerana mereka tidak punya apa-apa untuk di makan.Allahu Allah ini adalah gambarankehidupan anak kepada Sayyiduna Rasulullah. Walaupun Sayyidatuna Fatimah berhak meminta agar tidak hidup sebegitu, namun tidaklah kekayaan dunia yang didambakan. Begitu Rasulullah mendidik anaknya Sayyidatuna Fatimah. Sedangkan kita? Allah Allah Allah..masih belum merasa cukup dengan apa yang kita?

Maka, Yahudi itu memberikanya 3 paket gandum.Lalu pulanglah Sayyiduna Ali ke rumahnya dan diberikan 3 paket gandum itu kepada Sayyidatuna Fatimah. Kemudian, Sayyidatuna Fatimah menggunakan satu paket gandum yang diberikan oleh Yahudi itu untuk dibuat roti sebagai juadah berbuka puasa mereka sekeluarga. Kemudian, datang seorang lelaki yang fakir kelaparan datang ke rumah mereka meminta agar diberikan makanan. Maka, diberinya roti yang hanya cukup-cukup untuk mereka sekeluarga makan ketika berbuka kepada lelaki fakir itu. Allahu Allah dengan keadaan keluarga mereka yang dhaif itu, masih mampu lagi mereka bersedekah. Mereka hanya berbuka dengan air dalam keadaan Sayyiduna Hassan dan Hussain yang tidak sihat. Subhanallah...

Keesokkan harinya, hari kedua mereka berpuasa, Sayyidatuna Fatimah menggunakan paket kedua yang diberikan oleh Yahudi itu untuk dibuat roti sebagai juadah mereka berbuka puasa. Ketika saat tibanya waktu berbuka, datang seorang anak kepada seorang mujahidin yang telah syahid di medan perang datang meminta makanan. Maka, diberi roti yang ada itu kepadanya. Berbukalah mereka hanya sekadarnya.

Ketika hari terakhir berpuasa iaitu masuk hari ketiga mereka berpuasa, seperti biasa, Sayyidatuna Fatimah memasakkan juadah berbuka puasa untuk mereka sekeluarga. Beliau menggunakan paket terakhir gandum yang tinggal untuk dibuat roti. Ketika menunggu saat berbuka puasa, datang seorang hamba tawanan Rasulullah Solallahu 'alaihiwassalam meminta agar diberikan makanan. Maka, diberinya roti yang ada itu kepada si hamba tersebut. Lalu, Sayyiduna Ali membawa keluarganya berjumpa Sayyiduna Rasulullah Solallahu 'alaihiwassalam kerana mereka sudah tidak punya apa-apa untuk dimakan ketika berbuka puasa.

Ketika peristiwa ini Jibril AS menyampaikan khabar gembira daripada Allah kepada mereka.

"Mereka juga memberi makan benda-benda makanan yang dihajati dan disukainya, kepada orang miskin dan anak yatim serta orang tawanan,Sambil berkata dengan lidah atau dengan hati): “Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu kerana Allah semata-mata; kami tidak berkehendakkan sebarang balasan dari kamu atau ucapan terima kasih" (Al-Insan: 8-9)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسلِّمْ

Wallahu'alam

Nota Kaki : teringat stu hadis Nabi yang pernah disebutkan oleh Al-Habib Ali Zeinal Abidin El-Hamid ketika bercakap perihal bersedekah. "Murka Allah akan tertolak disebabkan sedekah



[Kuliah Jumaat, 9 Ramadhan 1433H. Masjid SHAS UIAM Kuantan]

::Berkat Ehsan kepada Guru::




"Murabbina Al-Fadhil Ustaz Muhadir Haji Joll"
Diceritakan tentang satu kisah Abdul Rahman Ra'i guru kepada Imam Malik. Bapanya yang bernama Farouk seringkali keluar. Dan pada suatu hari bapanya Farouk itu, hendak keluar ke satu tempat dalam tempoh yang amat lama. Maka, ditinggalkan 70 000 dinar kepada isterinya buat perbelanjaan Abdul Rahman Ra'i dan isterinya sepanjang ketiadaannya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Abdul Rahman Ra'i pun meningkat dewasa dan menjagi seorang yang sangat tinggi ilmunya hasil didikan guru-gurunya. Maka, ibunya menggunakan sejumlah 70 000 dinar yang diberikan oelh suaminya itu untuk dihadiahkan kepada guru-guru Abdul Rahman Ra'i.

Ketika pulangnya Farouk ke rumah. Beliau bertanyakan tentang apa yang dibelanjakan menggunakan wang yang telah diberikan olehnya. Si isteri berasa serba salah untuk memberitahu tentang hal yang sebenarnya. Pada keesokkan harinya, ketika bersolat di Masjid Nabawi, dilihatnya anaknya Abdul Rahman Ra'i sedang mengajar di situ dan dihadiri lebih kurang 70 000 jemaah. Maka, senang hati seorang bapa melihatkan hal itu. Begitulah berkat berbuat ehsan terhadap guru.

"Lau la Murabbi Maa'raftu Rabbi"

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسلِّمْ

Wallahu'alam

Nota kaki : Kisah yang diceritakan Fadhilatus Syeikh Maulana Johari Bin Ali di Masjid Permatang Badak

Sunday, July 8, 2012

::Muamalah seorang Muslimah::






Wanita solehah kebanggaan agama
Seorang wanita muda masuk ke masjid menemui Imam Hanbali pada zamannya lalu dia berkata, "Wahai Imam Hanbali, dengarkanlah kisahku ini semoga diriku dan dirimu mendapat keampunan Allah. Sesungguhnya saya ni seorang wanita yang miskin, saya tak punya apa-apa kecuali tiga orang anak yang masih kecil. Hidup saya sungguh melarat sehingga kami tak punya lampu untuk menerangi rumah. Bagi menyara kehidupan kami empat beranak, saya bekerja memintal benang pada waktu malam dan menjualnya di pasar pada siang hari."

"Di manakah suami kamu?" tanya Imam Hanbali. "Suami saya gugur syahid apabila bertempur dengan Khalifah Al-Mustakim yang kejam dan zalim. Sejak itu hidup kami melarat", jawab wanita itu.

Wanita itu menyambung, "Disebabkan rumah saya tak ada lampu, maka saya terpaksa menunggu sehingga bulan mengambang, maka barulah saya dapat memintal benang. Pada suatu malam, ada kafilah dagang dari Syam datang lalu singgah bermalam berhampiran dengan rumahku. Mereka membawa lampu yang banyak sehingga kawasan rumahku menjadi terang-benderang. Aku mengambil kesempatan untuk bekerja memintal benang di bawah cahaya lampu mereka. Persoalanku adalah apakah wang hasil jualan benang yang dipintal olehku daripada cahaya lampu milik kafilah itu halal untuk aku gunakan?"

Imam Hanbali merasa kagum mendengar cerita wanita itu lalu bertanya, "Siapakah kamu wahai wanita muda yang begitu mengambil berat akan hukum agama di saat umat Islam lalai dan kikir terhadap harta mereka?"

Wanita itu menjawab bahawa dia adalah adik perempuan kepada seorang Gabenor yang Imam Hanbali kenali iaitu Gabenor yang sangat beriman dan beramal soleh. Imam Hanbali menangis terkenang akan Gabenor yang sangat baik itu. Setelah tangisannya reda, maka Imam Hanbali berkata, "Sesungguhnya aku amat takut akan azab Allah, kerana itu berilah aku masa untuk menjawab pertanyaan kamu. Pulanglah ke rumah dan esok kamu datang lagi ke sini." Malam itu Imam Hanbali berdoa, bermunajat serta memohonj petunjuk dari Allah.

Esoknya wanita itu kembali ke masjid untuk mendapatkan jawapan yang dijanjikan. Lalu berkata Imam Hanbali, "Wahai wanita yang solehah, sesungguhnya kain penutup wajah yang kamu pakai itu adalah lebih baik daripada serban yang aku pakai. Sesungguhnya kamu seorang wanita yang berhati luhur, bertaqwa dan penuh rasa takut kepada Allah. Berkenaan pertanyaan kamu semalam, sekiranya kamu tidak mendapat izin daripada rombongan kafilah dagang itu, maka tidak halal bagimu menggunakan wang daripada hasil jualan itu."

Wanita itu berasa sangat susah hati selagi tidak mendapat keizinan daripada rombongan kafilah dagang. Wanita itu sanggup menemui mereka seorang demi seorang bagi mendapatkan keizinan. Berita tentang wanita itu sampai ke pengetahuan Khalifah Al-Mutawakkil (khalifah baru) dan baginda begitu kagum dengan wanita itu lalu memberinya wang sebanyak 10,000 dinar.

Wanita itu menemui Imam Hanbali sekali lagi lalu bertanya mengenai wang yang dihadiahkan khalifah itu apakah halal dia menggunakannya. "Khalifah juga pernah memberikan wang kepada aku sebanyak itu, tetapi aku sedekahkan kepada fakir miskin yang aku temui di jalan", jawab Imam Hanbali. Wanita itu pun memberikan wang tersebut kepada fakir miskin dan hanya mengambil sedikit sahaja dari wang itu untuk membeli lampu bagi menerangi rumahnya.

Semoga Allah kurniakan kita taufiq dan hidayah untuk menjaga muamalat kita


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسلِّمْ



Wallahu'alam


Nota Kaki : Kisah yang pernah diceritakan oleh Murabbina Al-Fadhil Ustaz Mustafa Kamal ketika talaqi Kitab syarah kepada Kitab "Pelita Penuntut" karangan Syeikh Az-Zarnuji

Saturday, July 7, 2012

::Kisah Anak Yang Soleh::




Wahai Allah jadikanlah kami anak-anak yang soleh

Nabi Musa Alaihissalam diberi kurniaan oleh Allah dapat berbicara denganNya secara terus. Pada suatu hari Sayyiduna Musa AS bertanya kepada Allah tentang siapa yang akan berjiran dengannya di syurga kelak. Maka, Allah perintahkannya untuk pergi ke sebuah rumah yang mana di dalamnya tinggal seorang pemuda yang akan menjadi jirannya di syurga kelak.


Ketika sampainya Nabi Musa AS di rumah tersebut, maka baginda dipelawa masuk ke rumahnya. Beberapa ketika, sedang mereka berbual, pemuda tersebut meminta izin kepada Nabi Musa untuk uruskan sesuatu. Pemuda tersebut kemudian masuk ke dalam biliknya dan keluar semula dengan memikul seekor khinzir yang besar saiznya dan dimandikannya, kemudian selepas dimandikan beliau mengemaskan diri si khinzir tersebut. Kemudian, pemuda keluar untuk kali kedua dengan membawa seekor lagi khinzir dan melakukan hal yang sama. Nabi Musa AS kehairanan melihat apa yang dilakukannya.

Setelah itu, beliau kembali bertemu Nabi Musa AS. Nabi Musa AS, bertanya kepada pemuda tersebut bukankah beliau beragama Islam. Maka, jawab si pemuda tersebut, ya beliau seorang muslim. Kemudian Nabi Musa AS bertanya lagi kerana hairan jika beliau seorang muslim, bagaimana mungkin beliau sanggup memegang khinzir? Pemuda itu kemudian memberitahu Nabi Musa AS bahawa, dua ekor khinzir yang dimandikan dan disiapkan olehnya itu adalah kedua ibu bapanya. Katanya, walaupun siapapun mereka, tanggungjawabnya sebagai seorang anak adalah taat kepada kedua ibu bapanya.

Subhanallah Tabarakallah. Inilah penghuni syurga yang berjiran dengan Sayyiduna Musa Alaihissalam.

Sollu 'alan Nabiy!

Jom kita ambil ikhtibar =)

Cantik kan peringatan Allah..Subhanallah..Maha Suci Allah



 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسلِّمْ



Wallahu'alam

Nota kaki : Perkongsian oleh seorang Ustaz dari Jabatan Agama Islam Pahang ketika kuliah subuh di pagi Jumaat yang barakah, Masjid Sultan Haji Ahmad Shah, UIAM Kuantan