[Rampai Hikmah Kitab Al-Hikam]


Bagaimana hati dapat bersinar
sementara gambar dunia terlukis dalam cerminnya?

Atau, bagaimana hati bisa berangkat menuju Allah
kalau ia masih terbelenggu dengan syahwatnya?

Atau, bagaimana hati akan bersemangat
menghadap ke hadirat Allah
bila ia belum suci dari "janabah" kelalaiannya?

Atau, bagaimana hati mampu memahami
kedalaman misteri ghaib
padahal ia belum bertaubat dari kesalahannya?

Alam ini serba gelap.
Ia terang hanyalah karena
tampaknya Allah di dalamnya.
Siapa melihat alam namun
tidak menyaksikan Tuhan
di dalamnya, padanya, sebelumnya, sesudahnya,
maka ia benar-benar memerlukan cahaya,
dan "suria" makrifat terhalangi darinya
oleh "awan" benda-benda ciptaan.

Di antara bukti
yang memperlihatkan kepadamu adanya kekuasaan Allah
adalah bahawa Dia menghalangimu dari melihat-Nya
dengan tabir yang tiada wujudnya di sisi-Nya.

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu dapat menghalangi-Nya,
sementara Dia-lah Yang Menampakkan segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu sanggup menghalangi-Nya,
sementara Dia-lah Yang Tampak pada segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu mampu menghalangi-Nya,
sementara Dia-lah Yang Tampak dalam segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu kuasa menghalangi-Nya,
sementara Dia-lah Yang Tampak untuk segala sesuatu?


Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu dapat menghalangi-Nya,
sementara Dia-lah Yang Ada sebelum segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu sanggup menghalangi-Nya,
bila Dia lebih jelas ketimbang segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu mampu menghalangi-Nya,
sedangkan Dia Esa, yang tiada di sampingnya sesuatu pun?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu kuasa menghalangi-Nya,
padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada segala sesuatu?


Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu dapat menghalangi-Nya,
sementara seandainya Dia tak ada, nescaya tak akan ada segala sesuatu?

Betapa ajaib, bagaimana kewujudan bisa tampak dalam ketiadaan?
Atau, bagaimana sesuatu yang baharu bisa bersanding dengan Yang Mahadahulu.


Sangatlah jahil, orang yang menginginkan
terjadinya sesuatu yang tidak dikehendaki Allah
pada suatu waktu.

Menunda beramal (soleh)
demi menantikan kesempatan yang lebih luang,
termasuk tanda kebodohan diri.



Jangan meminta kepada Allah supaya engkau dipindah
dari suatu keadaan (hal) ke keadaan yang lain.
Sekiranya Dia menghendaki yang demikian,
Dia tentu telah memindahkanmu
tanpa mengubah keadaanmu sebelumnya.


Bila semangat seorang salik ingin berhenti
pada sebahagian yang tersingkap baginya,
suara-suara hakikat memperingatkannya,
"Yang kamu cari masih di depan!"
Demikian halnya bila tampak
keindahan alam,
hakikat-hakikat memperingatkanmu,
"Kami hanyalah batu ujian,
maka janganlah engkau kafir."
(QS 2: 102)

Kamu meminta dari Allah bererti menuduh-Nya.
Kamu meminta kepada-Nya bererti engkau mengumpat-Nya.
Kamu meminta kepada selain-Nya bererti kamu
tak punya rasa malu kepada-Nya.
Dan kamu meminta dari selain-Nya bererti engkau jauh dari-Nya.


Tiada suatu nafas berhembus darimu, kecuali di situ
takdir Tuhan berlaku padamu

NO 13-22

[Syeikh Ibn 'Athoillah As-Sakandari]

Wallahu'alam

Kredit : Sahabat

Nota kaki :Kalam-kalam hikmah Syeikh Ibn 'Athaillah As-Sakandari selalu sahaja membuatkan hati jatuh cinta. Cinta pada keindahan susunan kalamnya, hikmah yang tersirat dalam kalam-kalamnya. Allahu Allah..hayatinya agar dapat menjadi penawar kepada penyakit hati. Membuang rasa bangga diri dan sombong. Membuang sifat ke"AKU"an kepada ke"HAMBA"an

"Si gelas-gelas kaca"

Dalam sebuah perjalanan. Ketika itu Rasulullah Saw bersama seorang budak yang biasa dipanggil dengan nama Anjasah. Suara Anjasah yang demikian besar membuat unta yang sedang dituntunnya menjingkrak-jingkrak. Setiap kali Anjasah berkata deng
an suara tinggi, maka unta itu bergerak tanpa kontrol karena terkejut. Hal itu membuat para wanita yang sedang berada diatas punggung unta hampir-hampir saja terjatuh.

Melihat yang demikian itu, saking perhatiannya kepada para wanita, Rasulullah Saw segera menegur Anjasah, kemudian memintanya untuk melirihkan suaranya. "Perlakukanlah gelas-gelas kaca itu dengan lemah lembut, hai Anjasah!!" kata beliau mengingatkan. Dan maksud dari gelas-gelas kaca itu adalah para wanita.

Ungkapan yang begitu indah. Mengagumkan. Sungguh bahasa yang beliau pilih untuk mengilustrasikan karakteristik kaum wanita adalah sangat tepat. Mereka memiliki kelembutan rasa. Selembut belaian angin sepoi-sepoi, bahkan lebih lembut lagi. Mereka mempunyai kehalusan jiwa, sehalus sutera China, bahkan lebih. Hal inilah yang mendorong Rasulullah Saw begitu nyaman menyebut kaum wanita dengan istilah ‘gelas-gelas kaca’.

Gelas-gelas kaca itu bening. Sebening embun, bahkan lebih bening. Gelas-gelas kaca itu bersih. Sebersih semburat surya di waktu dhuha, bahkan lebih bersih lagi. Selalu menyenangkan hati orang yang menatapnya. Karena memang naluriah manusia cenderung mencintai keindahan. Dan gelas-gelas kaca itu punya tabiat dasar bersih serta indah. Berarti ini sangat tepat.

Wanita memiliki kelembutan jiwa, kepekaan hati serta sensitivitas rasa. Namun tabiatnya yang indah suatu saat bisa saja ternoda manakala ia keluar ataupun 'dipaksa' keluar dari rel fitrahnya. Demikian halnya dengan gelas-gelas kaca itu, ia bisa saja pecah ketika terjatuh atau dijatuhkan. Ia juga bisa kotor karena debu-debu nakal yang menempel padanya. Oleh karena itulah Rasulullah Saw begitu hati-hati dalam menyebutnya, apalagi bermuamalah dengannya.

[Al-Habib Sholeh Ahmad Al-Aidrus]

Nota kaki : Kisah ini adalah kisah yang telah dinukilkan oleh Habibuna Al-Habib Sholeh Ahmad Al-Aidrus seorang Muhadith di Pesantren di Indonesia. Al-Faqirah sangat gemar bertandang ke website Al-Habib dek kerana ilmu dan keindahan kisah-kisah yang dinukilkan oleh seorang Wali Allah yang disembunyikan kewaliannya ini. Jemput meneguk ilmu ke website Al-Habib di link ini >>http://www.madinatulilmi.com

Wallahu'alam